ke
“Tidak ada keseimbangan. Hancur sudah..”
Tempo hari, saya mengunjungi sebuah artikel mengenai kegalauan seorang teman, yang kebetulan tengah gusar akan kesenjangan dunia anak – anak Ilmu Alam terhadap Ilmu Sosial. Yang saya tahu, dia tidak meniliknya dari segi pertemanan, karena, toh, saya sendiri adalah Anak kelas XI Ilmu Sosial yang ternyata memiliki segudang koneksi menuju dunia Ilmu Alam.
Ya, memang bukan itu masalahnya.
Terlepas dari julukan aneh – aneh yang disodorkan kepada masing – masing jurusan, (Misalnya Bau Rumus untuk anak – anak IPA dan Bau Candi untuk anak – anak IPS) kesulitan akan masa depan sudah menjadi masalah klasik yang dihadapi segenap anak – anak Sekolah Menengah Atas.
Selama ini, pemilihan jurusan IPA dan IPS cenderung tidak seimbang. Kalau mau jujur, Departemen Pendidikan ini masih harus banyak belajar teori keseimbangan. Masa Anak – anak IPA hidupnya bisa lebih terjamin ? Kenapa tidak sekalian saja dibuat satu jurusan ?
Masa depan anak IPS kok lebih suram daripada IPA, bisa dapat koneksi lebih banyak daripada anak IPA ? Dan sebagainya.
Tentunya ini menjadi kegusaran saya juga, ketika dominasi anak – anak IPA menjajah kehidupan IPS, anak – anak bau candi seperti ini tidak bisa bertahan lama di strata sosial yang lebih tinggi. Saya tidak mau kalau nanti strata kelas atas diduduki oleh anak – anak keluaran Ilmu Alam.
Setidaknya, masalah tidak berakhir sampai situ.
Sebagaimana anda tahu apabila keadaan saat ini, anak – anak IPA lebih bisa memasuki dunia IPS seenak jidat. Dalam artian, memasuki lahan anak – anak IPS soal pekerjaan menjadi akuntan karena tidak ada pekerjaan yang cocok untuknya semasa hidup menggeluti Kimia dan Fisika. Di saat yang sama, tidak ada anak – anak IPS yang bisa menjadi seorang Fisikawan ? Bagaimana ini ?
Terlebih lagi dalam hal prestise.
Tak ubahnya dengan memasuki sekolah ternama, kelas Ilmu Alam saat ini seperti emas ilmu pengetahuan. Kesannya, Fisika seperti didewakan. Kimia bisa menjadi raja, Biologi juga mendapat kursi yang pantas di mata anak – anak kelas X, ketika mereka hendak memilih jurusan. Sedangkan bidang mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi dan Geografi malah dinomorduakan. Gara – gara mayoritas calon anak IPA tidak akan mempelajari hal ini di masa yang akan datang (Mentang – mentang orang yang akan bergelut dengan ini hanya anak – anak Ilmu Sosial :evil:).
Apalagi, kesan IPS sudah menjadi negatif.
Ya, harusnya anda sadar diri juga, dong. IPS itu bukan berarti anak – anaknya berandalan semua. Bukan anak – anak daripada geng motor jalanan. Bukan berarti anak – anak Sosial itu berotak bebal semua. Yang saya kesalkan, ternyata sampai guru pun beranggapan seperti itu !
Tatkala anak – anak IPA mendapat prioritas belajar sampai jam pelajaran terakhir, anak – anak kelas sosial malah pergi entah kemana gara – gara sang guru yang mendewa itu tidak nongol. :evil: Kalau anda mau tahu, saya akan sebutkan siapa saja anak – anak IPA yang diduga menggeluti dunia kriminal. Untuk apa saya berbuat seperti itu ? Untuk meyakinkan anda – anda, wahai para pejabat. Anak IPA juga ada yang jahat. Jangan melimpahkan stigma negatif kepada anak – anak kelas Sosial. Malah kebanyakan lebih parah. Anak IPA bukan dewa dan Anak IPS bukan juga kerbau.
Bisa jadi, karena kondisi – kondisi semacam di atas, anak – anak IPA lebih bisa diterima di tempat – tempat bermartabat tinggi, seperti ITB. Sementara anak – anak IPS lebih sulit untuk masuk kesana karena jurusannya tidak dapat diraih oleh kelas Sosial biasa.
Padahal kalau melihat kebenaran sekali lagi, ada orang IPS yang sebetulnya pintar pada pelajaran
– pelajaran berhitung dan rumus, tetapi karena dia tidak bisa menaruh harapan pada ijazah dan statusnya sebagai cecurut di kelas IPS, maka dia harus mengubur harapannya berada di bidang studi seperti IT dan Programming. Mengapa sistematika pendidikan tidak adil seperti itu ?
Mengapa saya mengatakan hal seperti ini ? Karena, saya ulangi, anak – anak IPA mendapat kebebasan untuk belajar dan bernaung diantara bidang – bidang yang seharusnya hanya digeluti orang – orang IPS. Orang IPA bisa menjadi akuntan, mengapa orang IPS tidak bisa menjadi Programmer IT ? Kalau bisa, akses semacam itu juga diberlakukan untuk anak – anak kelas Ilmu Sosial, karena di mata Tuhan, orang seperti saya juga manusia.
Nah, untuk orang – orang yang berusaha di balik dunia pendidikan, saya sudah memberikan satu lagi pekerjaan rumah, selain memberantas usaha percontekan di masa Ujian Nasional, serta kebijakan UN sebagai penentu hasil kelulusan (yang memble itu), saya rasa kalian juga harus mulai memperhatikan kehidupan kami yang tidak bisa ditentukan hanya dengan nilai dan kedudukan. :D
tika Ilmu Alam tak Sejajar Lagi dengan Ilmu Sosial
#forzaIPS :) i'm Tecos- xi-iss3

Tidak ada komentar:
Posting Komentar